Tidak Ada yang Kebetulan, Semua Sudah Direncanakan Tuhan

Sunrise di Merbabu, 6 Desember 2017

Halo bung! Bulan Desember ini adalah bulan dimana bulan bertambahnya 1 tahun usia saya. Biasanya di bulan ini saya melakukan pendakian. Alasan utamanya yaa karena bulan spesial di hidup saya, jadi saya gak mau cuma di kota posting foto ulangtahun meriah meriah. Saya lebih suka bulan ulang tahun saya terisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

Nah, pendakian kali ini sudah saya agendakan lama dengan teman teman hampir satu bulan sebelum tanggal 5 dan 6 Desember 2017. Saya sempat down karena banyak kendala dalam persiapan pendakian kemarin. Saya sempat sakit dan saya takut periksa ke dokter lagi karena takut kalo pendakian bulan Desember batal. Ketiak saya terdapat benjolan keras dan saya sudah periksakan ke puskesmas paling dekat dengan rumah saya dan hasilnya belo tau. Dikasih obat kalau misal sakitnya berkurang ya harus kembali ke puskesmas beroat rutin, kalaupun tidak kunjung sembuh saya harus ke rumah sakit untuk operasi benjolan tersebut.

Belom lagi kendala lain, H-7-an keberangkatan Hujan turun di Provinsi saya tinggal dan sekitarnya. Hujan yang tak kunjung reda membawa bencana yang tak terduga di Provinsi DIY ini. Air sungai meluap sampai menelan rumah dan korban jiwa. Hari itu menjadi banjir pertama di Provinsi DIY. Kami membatalkan pendakian mengingat cuaca yang benar benar tidak bersahabat hari itu juga.

2 Hari sebelum hari keberangkatan Jogja dan sekitarnya menjadi begitu cerah dan benar benar hujan tidak turun. Berberapa teman saya membatalkan pendakian tersebut dengan alasan sudah membeli tiket untuk pulang kampung kerena kami sudah masuk minggu tenang dan Jogja terguyur hujan sehingga tidak memungkinkan kami melakukan pendakian. Satu teman saya panggil aja Ryan masih punya tekad dan niat untuk melakukan pendakian ke Merbabu. Saya juga seneng karena bulan Desember ini saya masih diberikan kesempatan untuk melakukan pendakian. Kami melakukan berberapa persiapan. Hingga hari yang dinanti tiba.

Tanggal 5 Desember 2017, kami berdua berangkat dari Jogja menuju Selo, Boyolali dengan menggunakan motor Ryan pukul 9 pagi. Pelan pelan roda motor Ryan berputar hingga akhirnya kami tiba di basecamp Selo lama (bukan Selo Baru 'Gancik'). Kami beristirahat untuk memulihkan tenaga kami yang sedikit terkuras di perjalanan karena panas dan jalan yang naik turun. Pukul 12.45 kami mulai pendakian dari parkiran sampai ke tempat retribusi untuk mendatakan diri. Di tempat retribusi ternyata data pendakian terakhir yaitu tanggal 3 Desember, hari setelahnya tidak ada yang melakukan pendakian melewati Selo,sedangkan tanggal 5, hanya kami berdua yang melakukan pendakian karena kami berangkat paling awal.
Cuma mendaki berdua.

Pendakian kami dari gerbang masuk hingga pos 1 kami senang sekali. Memutar lagu, bercerita tentang segala hal, hingga hampir saja kaki kami sampai di pos 1 kejadian tak mengenakkan terjadi pada kami. Awalnya di 5 meter sebelum pos 1 kami beristirahat sejenak, tiba-tiba seekor monyet datang mendekati kami sehingga kami mulai melanjutkan perjalanan. Monyet tersebut mengikuti saya meminta sesuatu di Carrier saya. Demi Tuhan, saya ketakutan di kondisi seperti itu. Saya lepaskan carrier saya supaya saya tidak diserang. Monyet tersebut tetap mengikuti saya dan saya juga melepaskan tas kecil saya itu. Monyet tersebut mencari sesuatu di tas kecil saya sehingga saku di samping tas saya dirobek secara cuma cuma. Monyet tersebut meminta Carrier yang di bawa Ryan.  Ketika itu monyet tersebut sempat ditakut takuti dengan kayu malah monyet tersebut hampir melawan. Kami urungkan niat untuk melawan monyet tersebut. Carrier Ryan ditaruh, si monyet kembali mecari sesuatu di tas ryan. Diambilnya 8 butir gula jawa atau yang sering kalian sebut gula merah di saku tempat minum carrier Ryan. Disobek carrier nya, gula jawa tersebut dihabiskan dan monyet tersebut pergi kembali ke hutan dan kami melanjutkan perjalanan dengan membawa kecemasan yang tidak kami bicarakan di perjalanan.

Perjalanan berlanjut dari pos 1 menuju pos 2, kami mempercepat langkah agar kami cepat keluar dari hutan. Tanpa istirahat kami berjalan hingga kejadian di pos 1 terulang. Jujur aja kali ini lebih seram dari kejadian di Pos 1. Saat kami berjalan menuju pos 2 tiba-tiba seekor monyet hinggap di ranting yang bisa melengkung gitu dan mengagetkan kami. Monyet tersebut nyata benar saling berhadapan dengan Ryan. Monyet tersebut teriak, membuka mulutnya lebar lebar hinga gigi taring si monyet itu kelihatan. Kami pun reflek untuk melepaskan carrier yang kami bawa. Karena kami sudah janjian di pos 1 kalau kami diserang lagi bakal turun dan lapor ke polisi gunung di basecamp, kami turun dengan lumayan cepat menuju basecamp. Bodohnya kami meninggalkan carrier kami di tempat tersebut. Ternyata monyet tersebut bukan meminta barang yang kami bawa, malah si monyet ikut turun astagaaaa. Kami turun sampai pos 1 dan Tuhan mengirimkan bantuan yang tak terduga sama sekali.

Di tempat kami dirampok monyet pertama kami ketemu dengan mas mas pendaki yang lagi beristirahat sendiri. Kami meminta bantuan dan cerita kejadian yang kami alami di antara pos 1 dan 2. Alhamdulillahnya mas pendaki ini bersedia hati membantu kami untuk melewati hutan. Kami kenalan juga nih, namanya mas Ryan (mulai di sini aku panggil temen kampusku pake 'Si' dan Mas Ryan ini pake 'Mas', OKE?) yang berkuliah di UNS. Monyet yang ngikutin kami ikut di Pos 1 dan kami berhasil melewati monyet tersebut. Kami berjalan lumayan cepat menuju tempat carrier kami tertinggal, sesaat kami istirahat dan melanjutkan perjalanan. Ternyata si monyt gak nyerah nyerahnya mengikuti kami hingga kami istirahat monyet tersebut berada 1,5 meteran di depan saya istirahat. Saya kaget sumpah, hingga si monyet benar benar mendekat ke saya. Saya pindah ke belakang mas Ryan dan si monyet hampir saja melawan. Monyet tersebut ditakut takuti pake kayu hingga akhirnya kami bertiga bisa melewati hutan dengan aman. Kami beristirahat di Pos 2 lumayan lama untuk menyiapkan tenaga munuju pos 3 melewati tanjakan pertama.

Sesampainya di Pos 3 kami ber-3 ketemu teman teman baru lagi. Mereka datang ber-3 juga dari Sukoharjo. Kami sama sama ketemu diwaktu yang sama datang di pos 3. Panggil mereka mas Andi, mas Budi, dan mas Fantoni. Kami berkenalan di pos tiga sembari beristirahat. Kami melanjutkan perjalanan hingga sampai sabana 2. Di tengah perjalanan menuju sabana 1 kami berhenti merasakan teduhnya senja di gunung merbabu yang sepi pada hari itu.
Memandang Gunung Merapi
ini mas Ryan yang udah menyelamatkan kami

Kami bermalam di Sabana 2 dengan 3 tenda yang kami bawa masing masing. Setelah mendirikan tenda dan makan malam kami siap siap untuk istirahat menyiapkan tenaga untuk summit attack di hari berikutnya.

Summit Attack kami dimulai saat subuh dan kami berangkat dari sabana 2. kami pun sampai puncak jam setengah 7 pagi. Hanya kami ber-6 ada di puncak. Kami menikmati pemandangan, berfoto, dan melepas lelah senjenak. Pukul 7.30 kami turun menuju sabana 2 untuk makan dan packing.
Jalan menuju puncak, merapi terlihat jelas
Sunrise di Merbabu
Halo Sumbing, Sindoro, Dieng
Mas Fantoni, Mas Andi, Mas Budi, Mas Ryan
Lautan Awan
Makhluk hippie
akhirnya
mantab
Selesai makan dan packing kami membersihkan sampah yang tercecer di sabana 2. Saat kami akan memulai perjalanan, tiba tiba seekor monyet datang mendekati tempat kami berdiri. Belum banyak langkah kami berjalan, rombongan monyet menutup jalan utama menuju sabana 1. Seriusan seperti bawa rombongan se-RT monyet yang mendekati kami. Untung di sabana 2 ada jalan banyak menuju jalan utama. Alhasil kami harus nanjak untuk menghindari rombongan monyet tersebut. Kami berpisah dengan mas Andi, mas Budi, dan mas Fantoni di pos 3. Kami saling bertukar kontak dan berbagi cerita sebelum kami berpisah (rasanya gak mau pisah hahaha, pengen turun bareng). Setelah berpisah untuk melanjutkan perjalanan. Kami ber-3 (saya, si Ryan dan mas Ryan) menuju pos 2. Kami istirahat di gazebo yang ada di Pos 2. Tak lama kami duduk, hujan pun mengguyur Merbabu. Saya teramat bersyukur karena saat hujan mungkin monyet yang mengganggu kemarin bakal berteduh dan tak bakal ketemu kami. Menunggu sedikit reda kami melanjutkan dari pos 2 menuju pos 1 dan memang benar tak ada monyet yang mengganggu kami. Kami pulang menuju basecamp dengan selamat hahahaha….

Sudah segitu dulu ya ceritanya. Kalo ceritanya saya lanjutkan bakal jadi novel jiahahahaha. Perjalanan di Merbabu kali ini banyak ceria seru dan banyak pelajaran yang saya dapatkan. Jika kemarin kami ber-2 tidak diserang monyet mungkin kami tidak bakal mengenal dekat dengan mas Ryan, dan juga kami tak akan naik ber-6 dari pos 3. Semoga kami tidak lupa dengan begitu banyak cerita ini. AAMIIN.

                   Jadi kapan kita akan dipertemukan oleh Tuhan???

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram